Poligami di Minangkabau Pada Masa kolonial

Vitri Puspita Sari(1*),

(1) 
(*) Corresponding Author


Abstract


Di Minangkabau, poligami merupakan hal yang sudah biasa terjadi pada masa kolonial. Pada masa itu, laki-laki banyak yang mempunyai istri lebih dari satu orang. Mengingat hal itu, penulisan ini penting dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah memang di Minangkabau praktek poligami sering terjadi. Penulisan ini akan menggunakan metode sejarah dengan melihat sumber-sumber pada masa kolonial. Menurut laporan Kolonial Belanda Indisch Verslag terbitan 1931, di Sumatera Barat terdapat sebanyak 271.901 laki-laki yang sudah menikah secara monogami. Sedangkan laki-laki yang beristri dua terdapat sebanyak 20.127 orang. Laki-laki yang beristri tiga orang sebanyak 2.371 orang, dan laki-laki yang mempunyai istri empat terdapat sebanyak 455 orang. Dari jumlah tersebut, Sumatera Barat yang paling banyak berpoligami di antara kota-kota yang ada di Pulau Sumatera.

 


Keywords


Hindia Belanda; sejarah keluarga; pernikahan

References


Amerady Chatra. (2005). Orang Jemputan Regulasi Seksualitas dan Poligami di Minangkabau. Laboratorium Sosiologi FISIP Unand.

Antuli, S. A. (2016). POLIGAMI DAN PERMASALAHANNYA Kandungan Hukum QS. An-Nisa’ (4): 3 & 29. Jurnal Ilmiah Al-Syir’ah. https://doi.org/10.30984/as.v6i2.250

Apria Putra. (2011). Ulama-ulama Luak Nan Bungsu : Catatan Biografi Ulama-ulama Luak Limopuluah Kota Serta Perjuangannya. Minangkabau Press.

Arief Budiman. (2016). Analisis Yuridis Terhadap Kawin Batambuah Yang Dilakukan Oleh Masyarakat Adat Minangkabau Agam Sumatera Barat. Universitas Sumatera Utara.

Atisah. (1995). Biografi A. Damhoeri dan Karyanya. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Clark, E. A., & Gottschalk, L. (1951). Understanding History: A Primer of Historical Method. The Hispanic American Historical Review. https://doi.org/10.2307/2509437

Darmawijaya, E. (2015). POLIGAMI DALAM HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF (Tinjauan Hukum Keluarga Turki, Tunisia dan Indonesia). Gender Equality: Internasional Journal of Child and Gender Studies.

Gagasan dan aktiviti wartawan wanita Minangkabau pada masa kolonial Belanda. (2012). JEBAT : Malaysian Journal of History, Politics and Strategic Studies.

Hadler, J. (2010). Sengketa Tiada Putus: Matriakat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau. In Freedom Institute.

Hamka. (1974). Kenang-Kenangan Hidup. Bulan Bintang.

Indisch Verslag. (1938). Monogamie En Polygamie Bij Inlanders En Vreemde Oosterlingen. Landsdrukkerij.

Moro, Fatimah, R. (1925, April). Perempoean Dengan Roemah Tangganja. Asjraq.

Muhammad Radjab. (1969). Sistem Kekerabatan Di Minangkabau. Center For Minangkabau Studies Press.

Muslim Ilyas. (1984). Riwayat dan Perjuangan Aziz Chan. PT. Telaga Gunung.

Putri, S. M. (2018). Perempuan dan Modernitas. Gre Publishing.

Untung Yuwono. (2008). Ketika Perempuan Lantang Menentang Poligami. Jurnal Wacana.

Yoce Aliah Darma. (2009). Analisis Wacana Kritis. Yrama Widya.




DOI: http://dx.doi.org/10.24127/hj.v8i1.2626

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah (p-ISSN: 2337-4713,e-ISSN: 2442-8728) Jl. Ki Hajar Dewantara, No. 116 Metro Timur, Kota Metro, Lampung, Indonesia 

phone (+6285200847481) (historiaummetro@gmail.com)

 

Creative Commons License
HISTORIA by Pendidikan Sejarah UM Metro is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

HISTORIA : Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah

 

 

Historia Stats

Free counters!